Faktor penghambat perubahan sosial budaya apa saja yang terjadi dalam kehidupan Suku Anak Dalam dan Suku Kajang tersebut?

WAHYU, ASWAR (2019) PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT KAJANG KECAMATAN BULUKUMPA KABUPATEN BULUKUMBA. Diploma thesis, Universitas Negeri Makassar.

Preview

Text
jurnal.pdf

Download (219kB) | Preview

Abstract

Abstrak Aswar Wahyu. 2018.Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Kajang Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Makassar. (Pembimbing I Dr.Ibrahim, S.Ag.,M.Pd dan Pembimbing II Hasni, S.Pd.,M.Pd). Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui proses perubahan sosial budaya pada masyarakat Kajang Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba, (2) Mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan sosial budaya masyarakat Kajang kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba. (3) Mengetahui dampak perubahan sosisal budaya terhadap masyarakat Kajang Kecamatan Bulukumpa Kabaupaten Bulukumba, sehingga peneliti ikut berpartisipasi di lapangan dan melakukan observasi dan pengamatan serta mengkumpulkan data secara detail untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di Kawasan Ammatoa Kajang Kabupaten Bulukumba.Hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1) Proses perubahan sosial budaya pada masyarakat Kajang Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba dilihat dari Difusi, Akulturasi, Asimilasidan Akomodasi yang merupakan pengaruh dari proses perubahan sosial budaya, sehingga masyarakat mengalami perubahan sistem sosial yang menyangkut aspek kehidupan. (2) Faktor yang mempengaruhi perubahan sosial budaya masyarakat Kajang Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba Faktor penghambat masyarakat suku Kajang sangat terpengaruh dengan adanya dampak globalisasi yang dirasakan sehingga masyarakat ingin merasakan teknologi dan Faktor pendorong masyarakat suku Kajang secara tidak langsung mendorong ke arah masyarakatnya mengikuti gaya hidup saat ini, padahal masyarakat suku kajang hanya ingin memenuhi kebutuhan hidup bukan untuk bergaya dan menikmati sesaat. (3) dampak perubahan sosisal budaya terhadap masyarakat Kajang Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba Dampak posistif masyarakat Ammatoa Kajang sangat menganjurkan generasinya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya supaya dapat mengetahui aktivitas diluar sana sehingga dapat bertahan dengan perubahan-perubahan yang terjadi seperti teknologi yang canggih dan Dampak negatif masyarakat Ammatoa Kajang terdampak negatif pada lingkungan dan adat istiadatnya dikarenakan suku Kajang tidak selamanya bermukim di Kajang dalam.

Actions (login required)

View Item

Ahriyani, Ahriyani (2017) Analisis Perubahan Pola Pikir Kehidupan Sosial Masyarakat Ammatoa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Undergraduate (S1) thesis, Univeritas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Preview

Teks
AHRIYANI.pdf

Download (7MB) | Preview

Abstrak

Penelitian ini berjudul “Analisis Perubahan Pola Pikir Kehidupan Sosial Masyarakat Ammatoa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba” mengemukakan tiga rumusan masalah yaitu Bagaimana Pola Pikir Masyarakat Ammatoa di Desa Tana Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba ? Bagaimana Proses Perubahan Perubahan Pola Pikir Kehidupan Sosial Masyarakat Ammatoa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba ? dan Apa Faktor Pendukung dan Penghambat Perubahan Pola Pikir Kehidupan Sosial Masyarakat Ammato Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, berdasarkan pada rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan yaitu untuk mengetaui analisis perubahan pola pikir kehidupan sosial masyarakat ammatoa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif, dengan menggunakan beberapa informan untuk melakukan wawancara dan observasi. Sumber data yang digunakan adalah sumber primer yaitu informasi yang bersumber dari pengamatan langsung ke lokasi penelitian dengann cara observasi dan wawancara. Sedangkan sumber sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumentasi atau studi kepustakaan untuk melengkapi data-data primer. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseharian masyarakat ammatoa merupakan segala bentuk aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat ammatoa menggunakan bahasa konjo sebagai bahasa sehari-hari yang berkembang dalam suatu komunitas masyarakat. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman secara perlahan masyarakat Ammatoa sedikit demi sedikit sudah ada perubahan mulai dari penggunaan bahasa, alat-alat yang digunakan serta bidang pendidikan. Dengan adanya perubahan tersebut yang menjadi faktor penghambat yaitu masyarakat ammatoa belum sepenuhnya mau menerima modernitas yang ada karena terbatasnya pengetahuan mereka mengenai penggunaan bahasa dan pendidikan. Adapun yang menjadi faktor perubahan pola pikir kehidupan sosial yaitu adanya kontak dengan masyarakat Kajang Luar yang sudah terkontaminasi dengan perkembangan zaman, sikap saling berinteraksi dengan baik, saling menghargai dan adanya sarana pendidikan yang lokasinya dikawasan adat ammatoa. Implikasi penelitian ini diharapkan mampu memberikan konstribusi kepada masyarakat Ammatoa Kajang sebagai bahan wacana baru dan berharap agar kedepan pihak pemerintah mengusulkan adanya penambahan tenaga pengajar dan sarana pendidikan agar lebih efektif dalam perubahan pola pikir masyarakat Ammatoa dengan tetap bersandar pada Pasang ri Kajang.

View Item

Downloads

Downloads per month over past year

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT KAJANG · PDF file teknologi dan Faktor pendorong masyarakat suku Kajang secara tidak langsung mendorong ke arah masyarakatnya mengikuti gaya hidup

/ 21

Penulis: Maria Ulfa
22 November 2021

View non-AMP version at tirto.id

Faktor penghambat perubahan sosial di antaranya adat dan kebiasaan. Ada 8 faktor lainnya yang menghambat terjadinya perubahan sosial. Berikut penjelasannya.

tirto.id - Adat dan kebiasaan dapat menjadi faktor yang menghambat terjadinya perubahan sosial. Secara keseluruhan, terdapat 9 faktor yang menghambat perubahan sosial.

Perubahan sosial tidak dapat dihindari dari kehidupan bermasyarakat. Meski begitu, perubahan tersebut dapat berjalan lambat, karena sejumlah faktor yang mempengaruhinya.

Advertising

Advertising

Perubahan sosial memiliki 4 ciri khas yang paling umum diketahui, menurut sosiolog, Selo Soemardjan. Pertama, masyarakat merasakan perubahan sosial dalam lingkungannya, baik itu berjalan lambat atau cepat. Perubahan ini terus-menerus tanpa henti.

Kedua, saat perubahan dialami oleh lembaga kemasyarakatan, akan terjadi perubahan pula di lembaga-lembaga sosial lain. Ketiga, disorganisasi dapat terjadi jika perubahan sosial berlangsung sangat cepat dalam suatu kelompok masyarakat. Akan tetapi, sifat disorganisasi ini hanya sementara.

Keempat atau yang terakhir, perubahan dapat terjadi di bidang kebendaan (materi) maupun spiritual. Kedua bidang ini memiliki kaitan timbal-balik.

Pengertian Perubahan Sosial

Secara etimologi, perubahan sosial berarti perubahan pada berbagai lembaga kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem sosial masyarakat, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, pola, perilaku di antara kelompok dalam masyarakat.

Priotr Sztompka menguraikan perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial, dengan penjelasan adanya perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam waktu yang berlainan.

Konsep dasar tentang perubahan sosial berkaitan dengan tiga kriteria meliputi:

  1. Studi tentang perbedaan, dalam arti dapat melihat adanya perbedaan atau perubahan kondisi objek yang menjadi fokus studi. Studi tersebut harus dilakukan dalam waktu yang berbeda, dalam arti dilakukan studi komparatif dalam dimensi waktu yang berbeda.
  2. Pengamatan pada sistem sosial yang sama, dalam arti objek yang menjadi studi komparasi tersebut haruslah objek yang sama. Sehingga pembahasan perubahan sosial selalu terkait dengan dimensi ruang dan waktu.
  3. Dimensi ruang menunjuk pada wilayah terjadinya perubahan sosial serta kondisi yang melingkupinya. Tentunya dimensi ini tidak terlepas dari aspek historis yang terjadi pada wilayah tersebut. Dimensi waktu dalam arti perubahan sosial melihat dari masa lampau (past), sekarang (present), dan masa depan (future). Dari masa ke masa akan dibandingkan sehingga dapat diketemukan perubahan sosial yang terjadi.

Di dalam proses perubahan sosial juga terdapat pendorong (penguat) dan penghambat perubahan sosial. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Faktor pendorong membuat proses perubahan sosial budaya menjadi lebih cepat sedangkan faktor penghambat membuat proses perubahan sosial menjadi lebih lambat bahkan gagal.

Infografik sc faktor yang menghambat perubahan sosial. (tirto.id/fuad)

Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Berikut ini adalah faktor penghambat perubahan sosial budaya, seperti dikutip Sumberbelajar Kemendikbud.

1. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain

Masyarakat yang kurang berhubungan dengan masyarakat lain mengalami perubahan yang lamban. Hal ini dikarenakan masyarakat tersebut tidak mengetahui perkembangan masya rakat lain yang dapat memperkaya kebudayaan sendiri.

Mereka terkukung dalam kebudayaan mereka dan polapola pemikiran yang masih sederhana. Contohnya suku-suku bangsa yang masih tinggal di pedalaman.

2. Masyarakat yang Bersikap Tradisional

Umumnya masyarakat tradisional memegang kuat adat istiadat yang ada. Mereka menolak segala hal baru yang berkenaan dengan kehidupan sosial. Adat dan kebiasaan diagung-agungkan. Sikap ini menghambat masyarakat tersebut untuk maju.

3. Pendidikan yang Rendah

Masyarakat yang berpendidikan rendah umumnya tidak dapat menerima hal-hal baru. Pola pikir dan cara pandang mereka masih bersifat sederhana.

Mereka umumnya enggan mengikuti gerak perubahan yang ada. Artinya, masyarakat statis dan tidak mengalami perubahan yang berarti.

4. Adanya Kepentingan Yang Tertanam Kuat pada Sekelompok Orang (vested interest)

Adanya vested interest yang kuat dalam suatu kelompok menyebabkan perubahan sulit terjadi. Hal ini dikarenakan setiap kelompok yang telah menikmati kedudukannya akan menolak segala bentuk perubahan.

Mereka akan berusaha mempertahankan sistem yang telah ada. Mereka takut adanya perubahan akan mengubah kedudukan dan statusnya dalam masyarakat.

5. Ketakutan Akan Terjadinya Kegoyahan Integrasi

Terciptanya integrasi merupakan harapan dan cita-cita masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, integrasi merupakan sesuatu yang dilindungi oleh masyarakat. Segala hal baru ditolak untuk menghindari kegoyahan dalam integrasi masyarakat.

6. Prasangka Buruk Terhadap Unsur Budaya Asing

Sikap demikian sering dijumpai pada masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa asing. Pengalaman-pengalaman tempo dahulu menyebabkan mereka senantiasa berprasangka buruk terhadap budaya asing.

Akibatnya, mereka menolak segala hal baru terutama berasal dari bangsa asing, walaupun akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

7. Hambatan Ideologis

Perubahan yang bersifat ideologi sangat sulit dilakukan. Mengapa demikian? Setiap orang memandang ideologi sebagai sebuah pedoman hidup yang paling mendasar.

Oleh karena itu, perubahan yang bersifat ideologis tidak mungkin terjadi terlebih pada masyarakat tradisional ketika ideologi dipegang kuat dalam kehidupan sosial.

Sementara, dalam Modul Mata Pelajaran Sosiologi SMA, terdapat dua faktor lain yang dapat menghambat perubahan sosial, yaitu:

8. Adat dan Kebiasaan yang Mendarah Daging

Kebiasaan merupakan pola-pola perlaku bagi anggota masyrakat untuk memenuhi kebutuhannya pokoknya. Apabila kemudian pola-pola perilaku tersebut tidak efektif lagi dalam memenuhi kebutuhan, maka akan terjadi krisis.

Misalnya dalam adopsi inovasi yang kemudian dapat menggantikan tenaga manusia, tidak selalu mudah terjadi karena disisi tertentu teknologi dapat menggantikan keberadaan tenaga manusia sehingga terjadi efektivitas dan penghematan. Di sisi lain justru memunculkan masalah baru yakni terjadi pengangguran.

9. Nilai Bahwa Hidup Ini pada Hakikatnya Buruk dan Tidak Mungkin Diperbaiki

Nilai ini dimiliki oleh sebagian individu yang berlatar belakang mengalami kegagalan sehingga merasa bahwa pada hakikatnya hidup itu buruk dan tidak mungkin diperbaiki.

Rasa putus asa dan menyerah lebih menguasai daripada ingin bangkit dan mencoba yang baru lagi. Sehingga nilai ini penghambat terjadinya perubahan sosial.

Baca juga:

Baca juga artikel terkait SOSIOLOGI atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - ulf/ulf)

Penulis: Maria Ulfa Penyelia: Yantina Debora

© 2022 tirto.id - All Rights Reserved.