Pesan yang terkandung dalam dongeng kisah kucing dan tikus adalah

Persahabatan Kucing dan Tikus (Vanda Parengkuan)

Seekor kucing berkenalan dengan seekor tikus. Si Kucing berpenampilan gagah, sangat ramah, dan pandai berbicara. Ia selalu berbicara tentang persahabatan dan kesetiakawanan. Tikus terpesona dan benar-benar ingin menjadi sahabat sejati si Kucing. Tikus akhirnya setuju ketika diajak tinggal bersama di satu rumah menjelang musim dingin.

"Kita harus membeli persediaan makanan untuk musim dingin, supaya tidak mati kelaparan,” usul Kucing. "Tapi aku tahu, kamu pasti tidak berani pergi kemana-mana, Tikus Kecil! Kamu pasti takut terjebak dalam perangkap, kan? Jadi, biar aku saja yang mengurusi persediaan makanan kita,” kata Kucing lagi.

Tikus setuju dengan usulan Kucing yang tampak cerdas itu. Tikus pun memberikan tabungannya untuk membeli mentega.

Akan tetapi, mereka tidak tahu harus menyimpan makanan mereka dimana. Akhirnya, Kucing kembali memberi usulan,

“Aku tahu tempat yang bagus! Kita sembunyikan saja di sudut gudang makanan Pak Walikota. Tak akan ada yang berani mencurinya. Dan aku pun mudah mengambilnya dari lubang angin di atas gudang. Kita tidak boleh mengambil mentega itu sampai musim dingin tiba,” kata Kucing.

Tikus setuju. Maka, Kucing pun membeli satu kendi mentega dengan seluruh uang tabungan Tikus. Kendi mentega itu lalu disembunyikan di tempat aman yang telah mereka setujui bersama.

Akan tetapi, tak lama kemudian, Kucing ingin sekali mencicipi mentega lezat itu. Maka ia pun berkata pada Tikus,

“Tikus Kecil, sepupuku baru saja melahirkan seekor bayi kucing berbulu putih bintik cokelat. Ia mengundang saya untuk datang melihat bayinya. Bisakah kau membereskan rumah ini sendirian? Aku akan pergi beberapa hari…”

“Tentu saja. Kalau ada makanan, tolong bawakan sedikit untukku,” kata Tikus tanpa curiga. Tikus sangat bangga bisa menjadi sahabat Kucing. Ia tidak keberatan membersihkan rumah sendirian.

Namun, semua itu hanya tipu muslihat Kucing. Ia tidak memiliki sepupu. Kucing malah pergi ke gudang makanan Pak Wali Kota. Ia melompat ke sudut gudang dan mendekati kendi mentega. Dengan lahapnya, ia pun menjilati bagian atas mentega dengan nikmatnya.

Setelah itu, ia berjalan-jalan di atap gedung-gedung di kota. Ia membentangkan badannya di rumput taman, menikmati sinar matahari. Sesekali ia menjilati bibirnya sambil memikirkan kendi berisi mentega itu.

Ketika malam tiba, Kucing pulang ke rumah lagi.


Page 2

Persahabatan Kucing dan Tikus (Vanda Parengkuan)

“Ah, akhirnya kau pulang,” sapa Tikus gembira. “Tentu ini hari yang menyenangkan! Siapa nama keponakan barumu?”

“Namanya, Lapisasanatas,” kata Kucing dengan nada datar.

“Lapisasanatas?” seru Tikus keheranan. “Itu nama yang aneh!”

“Tidak ada yang aneh," kata Kucing "Aku dulu malah dijuluki si Pencuririroti!”

Beberapa hari pun berlalu. Kucing kembali tak sabar lagi ingin mencicipi mentega persediaan makanan. Maka ia kembali berkata pada Tikus,

“Tikus kecil, tolong rapikan dan jaga rumah lagi, ya! Sepupuku yang lain melahirkan anak juga. Anaknya berbulu cokelat berhias bulu putih di sekeliling lehernya. Sepupuku ingin aku melihatnya. Aku tidak tega menolak.”

Tikus kecil mengangguk setuju. Maka Kucing pun pergi dengan gembira. Tentu saja ia kembali menyelinap ke gudang makanan Pak Walikota. Tanpa mengingat sahabatnya si Tikus, Kucing melahap setengah kendi mentega itu.

“Ah, betapa lezatnya, kalau makan sendiri,” gumamnya girang.

Ketika pulang ke rumah, Tikus kembali menyapanya tanpa curiga.

“Siapa nama keponakan barumu?”

“Sisasaseparuh!” jawab Kucing.

“Sisasaseparuh? Aku belum pernah mendengar nama seaneh itu!”


Page 3

Persahabatan Kucing dan Tikus (Vanda Parengkuan)

Kucing hanya tersenyum, namun air liurnya menetes saat membayangkan lezatnya mentega di kendi. Maka ia berkata lagi,

“Maaf, Tikus kecil. Besok, aku harus pergi sekali lagi. Keponakanku yang ketiga telah lahir. Bulu tubuhnya hitam pekat, hanya keempat kakinya yang berbulu putih. Sepupuku sangat bangga pada anaknya itu, sehingga dia memaksa aku datang ke rumahnya. Kau tidak keberatan kan, kalau menjaga dan membersihkan rumah sendiri besok?”

“Lapisasanatas, Sisasaseparuh…” gumam Tikus bingung. “Benar-benar nama yang aneh. Aku jadi ingin tahu nama keponakanmu yang ketiga,” kata Tikus.

“Oh, tunggulah dengan sabar di rumah, dengan jas abu-abu dan ekor panjangmu,” kata Kucing.  

Tikus membersihkan rumah sampai rapi ketika Kucing pergi. Ia bekerja keras, sementara Kucing yang serakah itu memakan habis semua mentega di kendi, persediaan makanan mereka.   

"Sekarang semua mentega sudah habis. Aku tinggal beristirahat,” katanya dengan perut kenyang.

Ketika Kucing tiba di rumah, Tikus kembali bertanya nama keponakan yang ketiga si Kucing.

“Namanya Habibistandas!”

“Habibistandas?” ualng Tikus terkejut. “Sungguh aneh nama-nama jaman sekarang. Aku tidak tahu artinya…” Tikus menggelengkan kepalanya, meringkuk di tempat tidur, dan tertidur.

Sejak saat itu, Kucing tidak pernah mendapat keponakan baru lagi. Sampai akhirnya musim dingin tiba. Tikus dan Kucing tidak bisa mencari makan lagi di sekitar tempat tinggal mereka. Maka Tikus teringat pada persediaan makanan mereka. Sekendi mentega.

“Kucing, ayo kita nikmati sekendi mentega persediaan kita. Pasti rasanya nikmat sekali,” kata Tikus.

"Oyaa… mentega pasti nikmat sekali,” jawab si Kucing.

Mereka berdua lalu pergi ke gudang Pak Walikota. Keduanya mengendap masuk, dan mendekati kendi tempat mentega. Namun, betapa terkejutnya Tikus ketika melihat kendi itu sudah kosong melompong. Seketika ia teringat akan cerita-cerita Kucing.

“Ah, sekarang aku baru mengerti apa yang terjadi! Kamu, kan, sahabatku! Kenapa kamu memakan semua persediaan makanan kita berdua? Kamu pasti memakannya waktu kamu minta ijin mengunjungi… Lapisasanatas, Sisasaseparuh, dan…”

“Tidak usah banyak bicara, Tikus!” teriak Kucing.

“Dan… Habibistandas…” ucap Tikus dengan suara kecil ketakutan.

“Yaa, aku juga akan membuatmu habis tandas!” Kucing langsung menangkap dan menelan Tikus yang malang.

Begitulah nasib Tikus, yang terlalu percaya pada Kucing yang gagah, ramah, dan pandai bicara. 

Teks adaptasi: L. Olivia

Dok. Majalah Bobo / Dongeng Jerman/ Brothers Grimm

Apakah putri Anda senang membaca dongeng di waktu luangnya? Dongeng mana yang menjadi favoritmu? Apakah fantasi tentang putri dan pangeran, dongeng tradisional Indonesia atau dongeng dengan karakter binatang?

Berbicara tentang dongeng, Mom pasti tahu dua karakter hewan, kucing dan tikus. Dua hewan identik ini saling bermusuhan, ternyata memiliki sejarah bersahabat.

Mau tahu seperti apa kisah kucing dan tikus dan pesan moral apa yang disampaikan dalam dongeng ini?

Berikut Popmama.com telah merangkum Kisah Anak: Kisah Kucing dan Tikus, di bawah ini!

1. Pada awalnya, kucing dan tikus adalah hewan yang bersahabat. img

Youtube.com/Yasmin Maharani

Dahulu kala di sebuah desa ada kucing dan tikus yang berteman. Kemanapun kucing pergi, tikus selalu mengikuti.

Suatu hari tikus berkata kepada kucing.

"Hai kucing!" kata tikus dan menyapa kucing

"Ada apa?" jawab kucing.

"Ayo makan ikan asin!" ambil tikusnya.

"Di mana kita bisa menemukan ikan asin?" tanya kucing yang terkejut.

"Di sana, nongkrong di rumah Pak Contadino! Ada banyak asi ikan, kami suka memakannya," kata tikus sambil menunjuk ke rumah Pak Tani.

Pilihan Editor

2. Tikus menyuruh kucing untuk segera melompat dan menerkam ikan asin tersebut, yang kemudian jatuh

Youtube.com/Yasmin Maharani

Seekor kucing tampaknya tertarik dengan saran tikus. Ketika malam tiba, tikus dan kucing pergi ke rumah Pak Tani. Mereka sepakat bahwa tikus akan memanjat untuk mengambil ikan asin yang tergantung sementara kucing menunggu di bawah.

Sebelum memanjat, tikus memberi pesan kepada kucing.

"Jika ikan asin jatuh di sini, cepat lompat dan lompat. Jangan biarkan ikan asin melompat keluar dari ruangan ini. Nanti kita ketahuan!" kata tikus.

Akhirnya si tikus naik ke tempat ikan asin itu bergelantungan. Setelah menemukan ikan yang bagus, besar, dan asin, dia lupa akan janjinya. Tikus memakan beberapa ikan asin di atas sementara kucing lapar menunggu dengan waspada, memiringkan kepalanya.

"Sudah lama sekali tidak ada mouse. Apakah tikus memiliki ikan asin atau tidak? Perutku sangat lapar,” kata kucing itu sambil mendongak.

3. Tikus yang diberi makan dan takut ditangkap, akhirnya terpeleset dan jatuh

Youtube. com / Yasmin Maharani

Tikus kemudian kembali memakan ikan asin terbesar dan terindah. Setelah diberi makan, tikus mulai menarik tali ikan asin itu hingga jatuh.

Tali untuk ikan asin belum berakhir. Karena kepenuhan, ketegangan dan ketakutan, mereka menemukan penghuni rumah, tiba-tiba tikus itu terpeleset dan jatuh.

Sebelum keluar, tikus berkata kepada kucing.

"Jangan makan aku, aku tikus, temanmu. Jangan makan aku," kata tikus.

"Ini ikan asin yang jatuh!" kata kucing yang salah paham.

"Ups, aku bukan ikan asin, aku temanmu. Saya tidak punya waktu untuk menjatuhkan ikan asin, jadi saya jatuh, "kata tikus pengemis.

4. Mereka akhirnya berkelahi karena kucing selalu mengira tikus adalah ikan asin